Di workshop yang berada di sentra kerajinan kulit Tanggulangin itu, aktivitas produksi masih dilakukan dengan penuh ketelitian. Mulai dari pemilihan bahan baku, pembuatan pola, pemotongan kulit, hingga proses menjahit dilakukan secara presisi oleh para pengrajin berpengalaman. Proses handmade menjadi nilai tambah tersendiri karena material kulit membutuhkan teknik khusus yang berbeda dengan bahan imitasi.
Usaha yang berdiri sejak tahun 2012 tersebut awalnya hanya menjual produk titipan pengrajin di pameran pasar mingguan di Solo. Namun seiring berkembangnya usaha, Sandy Leather kini memiliki workshop dan jaringan produksi sendiri. Selain menjaga kualitas produk, mereka juga terus mengangkat nama Tanggulangin sebagai kawasan legendaris sentra kerajinan kulit Indonesia agar tetap dikenal generasi muda dan pasar internasional.
Tak hanya mengandalkan penjualan offline, pelaku UMKM ini juga memperluas pasar melalui platform digital dan marketplace luar negeri. Upaya menjaga kualitas dan mengikuti tren pun mendapat apresiasi dari para pembeli yang menilai produk lokal Tanggulangin tidak kalah dari brand lain. Lewat sentuhan tangan para pengrajin, produk kulit lokal bukan sekadar barang pakai, tetapi juga menjadi simbol kreativitas, identitas, dan kebanggaan UMKM Indonesia. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)