Kondisi tersebut membuat warga harus menyalakan lampu hampir sepanjang hari untuk membantu penerangan. Lorong-lorong kampung terlihat redup, sementara rumah-rumah yang berdempetan membatasi masuknya cahaya alami dan sirkulasi udara. Meski demikian, warga telah beradaptasi dengan lingkungan tersebut dan menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Tarsini, salah seorang warga yang telah lama menetap di Kampung Tongkol, mengaku tidak lagi merasa terganggu dengan kondisi minim cahaya matahari. Ia tetap menjalankan usahanya di warung kecil yang berada di depan rumah. Menurutnya, lampu memang harus menyala siang dan malam, namun hal itu sudah menjadi bagian dari rutinitas yang dijalani warga setempat.
Tak hanya minim cahaya, padatnya bangunan juga membuat kawasan ini terasa lebih pengap dibanding lingkungan lain. Namun bagi warga Kampung Tongkol, kondisi tersebut telah menjadi bagian dari keseharian yang diterima dengan lapang. Di tengah gemerlap dan modernisasi ibu kota, mereka terus menjalani kehidupan dengan cara mereka sendiri, berdamai dengan gelap yang menyelimuti kampung di siang hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)