Sehari-hari, Jumaira tinggal seorang diri di rumah sederhana di tengah area persawahan. Setiap pagi, ia bekerja di sawah dan kebun milik warga untuk memenuhi kebutuhan hidup sekaligus menyisihkan sebagian penghasilannya untuk biaya haji. Uang hasil bekerja, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu rupiah, disimpan sedikit demi sedikit dengan penuh kesabaran selama bertahun-tahun.
Demi menjaga tabungannya tetap utuh, Jumaira memilih hidup sederhana. Saat tidak memiliki lauk, ia hanya memasak daun ubi atau sayuran seadanya. Sesekali, ia menikmati telur dari ayam peliharaannya sendiri. Kesederhanaan hidup itulah yang menjadi bagian dari perjuangannya untuk mewujudkan impian menjadi tamu Allah di Tanah Suci.
Perjalanan ibadah haji Jumaira pun menuai kekaguman dari para pendampingnya. Meski telah berusia lanjut, semangat dan fisiknya justru dinilai luar biasa. Kisah Jumaira menjadi bukti bahwa ketulusan, kerja keras, dan kesabaran mampu mengantarkan seseorang mewujudkan impian besar, termasuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)