Sambut Ramadan, Warga Gelar Tradisi Sadranan Sendang Gede Pucung

Medcom • 03 Februari 2026 18:24
Semarang: Tradisi kirab budaya dan sadranan Sendang Gede Pucung kembali digelar warga Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Jawa Tengah, menjelang bulan suci Ramadan. Tradisi tahunan ini menjadi wujud rasa syukur sekaligus upaya pelestarian budaya leluhur. Ratusan warga bergotong royong mengikuti rangkaian acara, mulai dari pembersihan sendang hingga memasak dan menyantap hidangan bersama.

Rangkaian sadranan diawali dengan menguras Sendang Gede Pucung dan menangkap ikan lele yang sebelumnya ditebar di sumber air tersebut. Warga kemudian menyembelih sekitar 150 ekor ayam kampung yang dimasak bersama menggunakan cara tradisional. Uniknya, ayam diolah dengan metode panggang emas, yakni dibakar langsung di atas bara api hingga bulunya hangus tanpa disiram air panas.

Usai proses memasak dan pembersihan sendang, warga menata sesaji di bawah pohon bungur di sekitar lokasi sendang. Berbagai sesaji seperti cengkaruk, jajanan pasar, kembang setaman, dan pisang Raja Ayu disiapkan sebagai bagian dari tradisi. Prosesi inti ditandai dengan doa bersama, di mana warga duduk bersila membentuk lingkaran untuk mengungkapkan rasa syukur serta menyambut datangnya bulan Ramadan. Tradisi nyadaran ini digelar setiap Jumat Pahing, bertepatan dengan hari wafatnya Nyai Tayem, leluhur yang dipercaya menemukan Sendang Gede Pucung.

Selain memiliki nilai spiritual dan historis sebagai sumber kehidupan warga di masa lalu, Sendang Gede Pucung juga menjadi pusat aktivitas sosial masyarakat. Momentum sadranan turut memberi dampak ekonomi, karena dimanfaatkan sebagian warga untuk berjualan. Pemerintah kelurahan pun mendukung pelestarian tradisi ini, yang melibatkan partisipasi warga dari berbagai RT. Warga berharap tradisi nyadaran Sendang Gede Pucung terus dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai identitas budaya lokal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News


(MUM)

Medcom Nasional