Perajin barongsai, Julius, menyebut peningkatan pesanan mencapai sekitar 50 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia mengatakan lonjakan tersebut mulai terasa sejak pandemi covid-19 berakhir. Padatnya agenda pertunjukan barongsai turut mendorong meningkatnya permintaan. Selama masa pandemi, aktivitas produksi sempat berhenti total karena tidak ada pesanan maupun pertunjukan.
Pesanan barongsai terus berdatangan hingga Januari. Namun, tidak semua permintaan dapat dipenuhi karena keterbatasan kapasitas produksi. Proses pembuatan barongsai membutuhkan waktu cukup lama, mulai dari menjahit hingga pewarnaan, sehingga pengrajin harus membatasi jumlah pesanan agar kualitas tetap terjaga.
Dari sisi model dan warna, barongsai bermulut bebek menjadi favorit karena dinilai lebih mudah dimainkan. Warna merah masih mendominasi karena dipercaya membawa keberuntungan. Meski demikian, tahun ini muncul minat terhadap warna-warna cerah seperti hijau dan biru muda. Bagi pengrajin, momentum Imlek tidak hanya berdampak positif secara ekonomi, tetapi juga menjadi upaya menjaga tradisi barongsai agar tetap hidup dan lestari. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)