Sejak sore, warga berbaris rapi menyusuri perkampungan hingga jalan protokol. Mereka membawa lampu elektrik yang telah dimodifikasi menjadi hiasan warna-warni, sembari melantunkan selawat yang diiringi tabuhan marching band dan marawis. Suasana semakin meriah dengan gema beduk yang menggugah semangat kebersamaan.
Meski harus berjalan kaki sejauh hampir tiga kilometer, para peserta tetap terlihat antusias. Anak-anak hingga orang tua tampak menikmati momen kebersamaan tersebut. Pawai ta’aruf ini pun telah menjadi tradisi tahunan yang selalu dinanti warga menjelang bulan suci.
Bagi masyarakat setempat, pawai ta’aruf bukan sekadar arak-arakan, melainkan simbol semangat dan persatuan umat Muslim dalam menyambut Ramadan. Tradisi ini menjadi pengingat untuk mempersiapkan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh berkah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)