Sejak pagi selepas salat subuh, warga memulai rangkaian kegiatan dengan pembacaan Al-Qur’an yang berlangsung hingga menjelang waktu asar. Suasana khusyuk menyelimuti area pemakaman saat warga mendoakan sanak saudara yang telah berpulang.
Memasuki sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan ziarah dan membersihkan area makam secara gotong royong. Rumput liar dipangkas, nisan dibersihkan, dan lingkungan sekitar dirapikan. Rangkaian tradisi kemudian ditutup dengan kenduri sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Pengelola Makam Kemadang, Subandi, mengatakan tradisi ini menjadi pengingat bagi manusia tentang asal dan tujuan kehidupan. Dalam filosofi Jawa dikenal sebagai Sangkan Paraning Dumadi, yakni kesadaran bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Melalui tradisi ini, warga berharap dapat menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan penuh makna. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)