Medan: Sebagian masyarakat tentu akrab dengan lemang, panganan tradisional berbahan dasar beras ketan atau pulut yang kerap dijumpai di pasar tradisional maupun di pinggir jalan. Lemang merupakan kuliner khas Melayu yang dimasak di dalam ruas bambu dan dibakar di atas bara api, menghasilkan cita rasa gurih dengan aroma khas. Makanan ini populer di berbagai daerah seperti Sumatera, Kalimantan, hingga Malaysia.
Di Medan, Sumatera Utara, lemang mudah ditemukan, salah satunya di kawasan Jalan Gatot Subroto dan Jalan AR Hakim. Di lokasi tersebut, Nurasyiah telah menekuni usaha berjualan lemang selama 28 tahun. Bersama putrinya, ia berjualan setiap hari mulai sore hingga malam, menggunakan gerobak sederhana.
Sebelum berjualan, Nurasyiah memasak sendiri lemang buatannya. Beras ketan yang dicampur santan dan bumbu dimasukkan ke dalam bambu yang telah dilapisi daun pisang muda, lalu dibakar menggunakan kayu selama dua hingga tiga jam hingga matang merata. Lemang yang telah masak memiliki tekstur lembut, padat, dan gurih, serta aroma khas dari proses pembakaran. Lemang dijual seharga Rp30.000 per batang atau Rp5.000 per potong, dan kerap dinikmati bersama tape ketan.
Dalam sehari, Nurasyiah biasanya mampu menjual hingga 30 batang lemang atau sekitar enam kilogram beras ketan. Jumlah tersebut meningkat signifikan saat akhir pekan atau hari raya, bahkan bisa mencapai 200 batang. Meski harga bahan baku seperti ketan, santan, daun pisang, hingga bambu kerap naik dan sulit didapat, Nurasyiah memilih tidak menaikkan harga. Berkat kegigihan dan ketekunannya, usaha ini tetap menjadi penopang ekonomi keluarga di tengah naiknya harga kebutuhan pokok.
(Ahmad Mumtaz Albika Musyarrif)
Cek Berita dan Artikel yang lain di