Jakarta: Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan mewabah di wilayah India Timur. Virus ini merupakan penyakit zoonosis, yakni ditularkan dari hewan ke manusia, sehingga masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan. Virus Nipah diketahui berasal dari kelelawar buah atau kalong (genus Pteropus) dan dapat menyebar ke manusia, bahkan berpotensi menular antar manusia.
Meski kembali ramai diperbincangkan, Virus Nipah bukanlah penyakit baru. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 di Malaysia, tepatnya di kawasan Sungai Nipah, yang saat itu menyerang peternakan babi. Wabah tersebut menyebabkan sedikitnya 105 kematian manusia dan memaksa pemusnahan sekitar satu juta ekor babi guna menghentikan penyebaran virus.
Penularan Virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa cara, antara lain kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, serta penularan dari manusia ke manusia. Jalur penularan antarmanusia inilah yang saat ini menjadi perhatian utama untuk diantisipasi agar tidak terjadi penyebaran lintas wilayah maupun lintas negara.
Gejala awal Virus Nipah umumnya meliputi demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Di India Timur, khususnya wilayah Benggala Barat, tingkat kematian akibat virus ini dilaporkan cukup tinggi, mencapai sekitar 75 persen. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Kesehatan menyatakan hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia. Meski demikian, langkah antisipasi telah dilakukan, termasuk sosialisasi serta kesiapan pemeriksaan laboratorium menggunakan metode PCR untuk mendeteksi virus tersebut.
(Ahmad Mumtaz Albika Musyarrif)
Cek Berita dan Artikel yang lain di