Bubur bercita rasa gurih tersebut dimasak menggunakan beras, daging, kaldu sapi, serta santan kelapa yang menghasilkan rasa khas dengan sentuhan rempah. Tradisi ini telah berlangsung turun-temurun selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari kegiatan berbagi saat bulan Ramadan.
Setiap hari, sekitar 12 kilogram tulang sapi dan 10 butir kelapa diolah dalam dua wajan besar. Proses memasak menggunakan kayu bakar dan memakan waktu hampir tiga jam sebelum akhirnya siap dibagikan kepada warga yang datang menjelang waktu berbuka puasa.
Bagi masyarakat setempat, bubur suro bukan sekadar hidangan takjil. Tradisi yang disebut telah dimulai sejak 1937 oleh keluarga Alhamid itu menjadi simbol kebersamaan dan warisan budaya yang terus dijaga setiap Ramadan di kawasan Makam Sunan Bonang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)