Bandung: Keterbatasan lahan di perkotaan tak menghalangi Agus Hadiyana untuk beternak ayam petelur. Sebuah kamar kos di Bandung, Jawa Barat, disulap menjadi 'Kamar Ayam' yang dihuni puluhan ayam. Setiap hari, ayam-ayam tersebut mampu menghasilkan hingga 20 butir telur yang dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Gagasan ini berawal dari keinginan Agus untuk membangun kemandirian pangan dari lingkungan terdekat.
Memelihara ayam di dalam ruangan tentu bukan perkara mudah. Agus harus menjaga kebersihan sekaligus mengendalikan bau kotoran ayam. Ia pun memanfaatkan rempah-rempah, fermentasi, dan bakteri aktif yang dicampurkan ke dalam pakan serta minuman ayam. Untuk menekan biaya, makanan sisa, limbah sayuran, magot, hingga keong sawah juga dimanfaatkan sebagai alternatif pakan. Sementara gabah, pasir, kotoran ternak, dan kapur dolomit digunakan sebagai alas kamar.
“Karena kita sebagai orang kota pada akhirnya terbatas dengan ruang. Ketika ruang rumah sudah sangat sempit, kita siasati dengan memanfaatkan ruang kos ini. Akhirnya kita maintenance saja ruang ini sebagai kamar ayam, bukan kandang ayam,” ujar Agus.
Ia mengaku konsep tersebut sejauh ini tidak menimbulkan keluhan dari warga sekitar karena bau dan kebersihan menjadi perhatian utama. Dengan memanfaatkan probiotik dan bakteri aktif, Agus berupaya meminimalkan bau amonia yang identik dengan peternakan ayam.
Tak berhenti untuk kebutuhan keluarga, Agus berharap konsep 'Kamar Ayam' dapat dikembangkan menjadi peternakan komunal di tingkat RT dan RW. Menurutnya, warga bisa memelihara ayam bersama, memperoleh telur maupun penghasilan, hingga menerapkan sistem barter menggunakan sisa makanan sebagai pakan. Dari ruang sederhana di sebuah kamar kos, Agus ingin menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukan alasan untuk tidak memulai kemandirian pangan.
(MUM)