Tanpa defensif dan tanpa romantisasi berlebihan, Tuantigabelas menjawab berbagai stigma yang selama ini menempel pada hip-hop: soal materialisme, gatekeeping, sampai anggapan bahwa hip-hop sudah kehilangan relevansi sosialnya.
Obrolan ini juga bergerak ke luar Jakarta. Fenomena hip-hop Timur dibahas bukan sebagai sensasi sesaat, melainkan hasil dari konsistensi panjang, kerja senyap, dan ekosistem yang tumbuh di tengah keterbatasan. Dari Papua, Kalimantan, hingga Maluku, kita diajak melihat bahwa hip-hop Indonesia tidak tunggal, tidak seragam, dan justru kuat karena keragamannya. Di bagian akhir, percakapan ini menatap ke depan: masa depan hip-hop Indonesia di tengah algoritma, industri, dan kecerdasan buatan.
Apakah hip-hop masih bisa menjadi ruang perlawanan? Atau ia akan sepenuhnya menjadi hiburan? Jawabannya mungkin tidak hitam-putih, tapi satu hal jelas: hip-hop Indonesia sedang berada di persimpangan penting. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(rzs)