Di tengah gempuran jajanan modern, cita rasa tradisional justru tetap memikat. Serabi di warung ini dibuat dengan cara klasik menggunakan anglo atau tungku arang serta cetakan cobek dari tanah liat. Proses tersebut menghasilkan aroma harum khas dan tekstur yang renyah di bagian bawah namun lembut di bagian dalam.
Kue berbahan dasar tepung beras ini semakin istimewa ketika disajikan bersama kuah santan kentang yang gurih dan manis. Selama bulan Ramadan, penjualan meningkat signifikan karena banyak warga memilih serabi sebagai menu pembuka sebelum menyantap hidangan utama.
Salah satu penikmat serabi, Saiful Anwar, mengaku menyukai aroma dan rasanya yang khas. “Dibuat dari kelapa, santan, dan tepung, lalu dipanggang dengan arang, aromanya jadi sedap. Rasanya enak sekali dan legit, apalagi santannya,” ujarnya. Kehangatan serabi dan kuah santan pun seolah melengkapi suasana berbuka yang sederhana namun penuh kenikmatan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)