Penggunaan blangkon bukan sekadar pelengkap penampilan. Tradisi ini telah dilakukan sejak 2017 sebagai bentuk upaya melestarikan budaya Jawa di kancah internasional. Di balik bentuknya yang sederhana, blangkon menyimpan filosofi mendalam, termasuk 17 lipatan yang melambangkan jumlah rakaat salat wajib dalam sehari.
Selain itu, bagian belakang blangkon juga memiliki makna simbolis tentang menjaga aib dan keharmonisan dalam kehidupan. Nilai-nilai tersebut dianggap sejalan dengan semangat spiritual dalam menjalankan ibadah haji. Tak heran jika tradisi ini terus dipertahankan oleh para jemaah asal Yogyakarta.
Tak hanya sarat makna budaya, penggunaan blangkon juga memberi manfaat praktis. Di tengah padatnya jutaan jemaah, blangkon memudahkan anggota rombongan untuk saling mengenali saat berada di keramaian. Rencananya, atribut tradisional ini akan terus dikenakan hingga puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)