Menjelang magrib, warga Rangkasbitung berkumpul di sekitar Alun-Alun Rangkasbitung bersama keluarga maupun kerabat. Mereka menunggu momen berbuka sambil menyaksikan dan mendengarkan suara dentuman meriam yang berasal dari kawasan Masjid Agung Al-A'raf.
Meriam tersebut terbuat dari pipa besi berdiameter sekitar 40 sentimeter yang dirancang menyerupai meriam tradisional. Dentumannya yang menggelegar menjadi penanda masuknya waktu berbuka puasa, sekaligus membangkitkan semangat kebersamaan di tengah masyarakat.
Selain sebagai penunjuk waktu, tradisi ini juga menjadi wujud pelestarian budaya dan tanggung jawab generasi penerus untuk menjaga warisan leluhur. Di tengah perkembangan zaman, dentuman meriam Ramadan di Rangkasbitung tetap bertahan sebagai simbol kekhasan dan kebersamaan warga Lebak. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)