Di tengah keterbatasan pendengaran dan wicara, para santri membuktikan bahwa menghafal Al-Quran bukan hal mustahil. Berdiri di atas lahan seluas 3.000 meter persegi di Sidomulyo, Godeyan, mereka belajar menjadi penghafal Al-Quran dengan metode bahasa isyarat. Komunikasi sehari-hari menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia, sementara hafalan ayat dilakukan dengan isyarat Arab, bahkan sebagian menguasai bahasa isyarat internasional.
Kemampuan para santri tak hanya diuji di dalam negeri. Proses pembelajaran dan hafalan mereka dipantau oleh para pemangku sanad di Mekkah dan Madinah. Ustaz Abu Kahfi, pengasuh pesantren, menjelaskan bahwa para santri diuji melalui tulisan tanpa harakat, karena mereka tidak mendengar vokal. Metode tersebut menjadi tantangan tersendiri, sekaligus bukti kesungguhan mereka dalam menjaga hafalan.
Pesantren Darul Ashom berdiri dari keprihatinan Ustaz Abu Kahfi saat mendapati banyak penyandang tuli yang belum mengenal dasar-dasar agama. Berbekal tekad dan dukungan keluarga, ia mendirikan pesantren khusus bagi santri tuli. Kini, keberadaan pesantren tersebut menjadi inspirasi bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)