Kondisi ini turut dirasakan oleh para perajin keripik tempe di berbagai daerah. Di kawasan Jakarta Selatan, salah satu pelaku UMKM mengaku kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak awal Ramadan dan terus berlanjut hingga setelah Lebaran. Lonjakan harga bahan baku tersebut berdampak langsung pada biaya produksi yang semakin tinggi.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, para perajin terpaksa melakukan penyesuaian harga jual. Salah satu penjual keripik tempe, Tina, mengaku harus menaikkan harga produknya dari Rp75.000 menjadi Rp80.000 per kilogram. Langkah ini diambil agar usaha tetap berjalan di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Meski demikian, para pelaku UMKM berharap situasi global segera membaik agar harga bahan baku kembali stabil. Mereka juga menaruh harapan pada pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang mampu menjaga kestabilan harga, sehingga usaha kecil tetap bisa bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)