Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mengatakan kemarau dini telah teridentifikasi di Riau dan Kalimantan Barat sejak Januari. Ia menyebut musim kering tahun ini diperkirakan berlangsung hingga awal Oktober, sehingga risiko karhutla lebih tinggi dibandingkan 2025.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kementerian Kehutanan menyiagakan operasi modifikasi cuaca secara preventif bersama BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Selain hujan buatan, BNPB juga menyiapkan satgas darat, helikopter patroli, serta water bombing di sejumlah wilayah rawan seperti Riau, Kalimantan, dan Sulawesi Selatan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan curah hujan tahun ini diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata musim kemarau dalam 30 tahun terakhir. Ia menjelaskan musim kemarau umumnya dimulai pada April-Mei, mencapai puncak pada Agustus, dan berakhir pada September hingga awal Oktober. Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)