Kendal: Peringatan Maulid Nabi Muhammad di sejumlah daerah di Indonesia tidak hanya diisi doa dan sholawat, tetapi juga dimeriahkan tradisi lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, warga menggelar tradisi weh-wehan. Sementara di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, warga mempertahankan tradisi cobekan sebagai bagian dari perayaan Maulid Nabi.
Pekan Maulid di Masjid Besar Al Muttaqin, Kaliwungu, Kabupaten Kendal, diisi berbagai kegiatan keagamaan mulai dari mengaji hingga pertunjukan rebana dan tradisi weh-wehan. Tradisi ini dilakukan dengan saling bertukar makanan setelah pembacaan doa dan sholawat. Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari turut mengikuti tradisi tersebut. Weh-wehan dinilai bukan sekadar perayaan Maulid, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan kepedulian antarwarga.
Selain weh-wehan, pekan Maulid juga diisi tradisi teng-tengan atau pemasangan lampion khas Kaliwungu. Sementara itu, di Kelurahan Pogar, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan, ratusan warga mempertahankan tradisi cobekan. Warga membawa nasi kuning, kue tradisional, dan makanan lainnya yang ditata di atas cobek berlapis daun pisang untuk kemudian dibagikan setelah doa dan sholawat.
Menurut warga, penggunaan cobek yang terbuat dari tanah memiliki makna filosofis, yakni mengingatkan bahwa manusia berasal dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tradisi cobekan juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan budaya lokal sekaligus memberdayakan para pengrajin cobek di Pasuruan.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(MUM)