Nagekeo: Kain tenun asli Mbay, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, terus dilestarikan hingga kini. Bagi para perajin, kain tradisional ini bukan hanya bagian dari upacara adat, tetapi juga menjadi sumber penghidupan keluarga. Salah satunya Sarifah Ahmad, perajin tenun Mbay di Golombai, Nagekeo.
Untuk menyelesaikan satu kain berukuran sekitar dua meter, Sarifah membutuhkan waktu hingga satu bulan. Kain tersebut dibanderol sekitar Rp2,5 juta. Harga itu sebanding dengan proses pembuatannya yang cukup rumit, terutama saat membuat motif pada kain. Keterampilan tersebut dipelajari Sarifah dari sang ibu sejak berusia 20 tahun, sementara alat tenun yang digunakannya merupakan warisan keluarga sejak 1973.
Aktivitas menenun Sarifah sempat terhenti selama tiga minggu setelah gempa melanda Nagekeo. Rasa takut terhadap gempa susulan dan kerusakan pada sejumlah bagian rumah membuatnya belum berani kembali menenun. Kini, Sarifah mulai menenun kembali meski masih diliputi rasa waswas dan memilih beristirahat ketika merasakan adanya kekhawatiran.
Bagi Sarifah, menenun bukan sekadar menjaga warisan keluarga, tetapi juga menjadi cara memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membiayai pendidikan ketiga anaknya.
Kain tenun Mbay sendiri memiliki fungsi penting dalam kehidupan masyarakat Nagekeo dan digunakan dalam berbagai upacara adat, termasuk pernikahan dan tinju adat. Di tangan para perajin, keterampilan menenun terus diwariskan dari generasi ke generasi agar keberadaan kain tradisional Mbay tetap terjaga.
(MUM)