Selama hampir tiga dekade, Ladalle bekerja dengan penghasilan yang tidak menentu. Ia mengangkut hasil panen petani dari desa ke tempat tujuan, sambil menyisihkan sedikit demi sedikit rezeki yang didapat. Sejak mendaftar haji pada 2011, tekadnya tak pernah surut meski harus menghadapi keterbatasan ekonomi.
Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis ketika ia masuk dalam kloter kedua Embarkasi Makassar. Meski kondisi kesehatan sempat menjadi tantangan, Ladaleh tetap menjalani proses keberangkatan dengan penuh rasa syukur. Baginya, kesempatan menjadi tamu Allah adalah anugerah yang tak ternilai.
Di Tanah Suci, Ladalle berharap dapat mendoakan keluarga, termasuk agar anak-anaknya kelak dapat mengikuti jejaknya menunaikan ibadah haji. Kisah ini menjadi pengingat bahwa impian besar dapat diraih melalui ketekunan, doa, dan keyakinan yang kuat. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)