Cerita Pelaut Indonesia Sebulan Tertahan di Hormuz

Medcom • 29 April 2026 13:33
Jakarta: Ketegangan di kawasan Timur Tengah tak hanya berdampak pada peta geopolitik dunia, tetapi juga menyentuh sisi kemanusiaan. Di Selat Hormuz, sekitar 20 ribu pelaut dari berbagai negara, termasuk Indonesia, terjebak di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ratusan kapal pengangkut energi dan logistik kini tertahan di jalur vital yang biasanya menjadi nadi distribusi energi global.

Salah satu yang merasakan langsung situasi mencekam ini adalah Reza Muhammad Saleh. Perwira kapal asal Indonesia itu telah lebih dari sebulan tertahan di perairan dekat Oman. Ia bersama awak kapal harus hidup dalam bayang-bayang serangan, setelah beberapa kali mendengar ledakan dan melihat ancaman drone di sekitar pelabuhan.

Kondisi di atas kapal pun semakin sulit. Gangguan sinyal GPS memaksa navigasi dilakukan secara manual, sementara persediaan makanan dan air mulai menipis. Komunikasi dengan keluarga di tanah air pun terputus, menambah tekanan mental bagi para awak yang harus bertahan di tengah ketidakpastian.

Meski situasi sempat relatif tenang, rasa cemas masih menyelimuti para pelaut. Reza mengaku pengalaman ini menjadi yang paling menegangkan sepanjang kariernya, mengingat Selat Hormuz yang biasanya aman kini berubah menjadi wilayah rawan. Hingga kini, perusahaan pelayaran memilih menahan kapal demi keselamatan, menunggu kondisi benar-benar kondusif sebelum kembali berlayar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News


(MUM)

Medcom Nasional