Salah satu yang merasakan langsung situasi mencekam ini adalah Reza Muhammad Saleh. Perwira kapal asal Indonesia itu telah lebih dari sebulan tertahan di perairan dekat Oman. Ia bersama awak kapal harus hidup dalam bayang-bayang serangan, setelah beberapa kali mendengar ledakan dan melihat ancaman drone di sekitar pelabuhan.
Kondisi di atas kapal pun semakin sulit. Gangguan sinyal GPS memaksa navigasi dilakukan secara manual, sementara persediaan makanan dan air mulai menipis. Komunikasi dengan keluarga di tanah air pun terputus, menambah tekanan mental bagi para awak yang harus bertahan di tengah ketidakpastian.
Meski situasi sempat relatif tenang, rasa cemas masih menyelimuti para pelaut. Reza mengaku pengalaman ini menjadi yang paling menegangkan sepanjang kariernya, mengingat Selat Hormuz yang biasanya aman kini berubah menjadi wilayah rawan. Hingga kini, perusahaan pelayaran memilih menahan kapal demi keselamatan, menunggu kondisi benar-benar kondusif sebelum kembali berlayar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)