Inovasi tersebut dikembangkan di Laboratorium Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS, dipimpin oleh peneliti Hosta Ardyananta. Tim menggunakan metode catalytic cracking untuk memecah molekul minyak sawit mentah menjadi bahan bakar setara bensin yang siap digunakan.
Dalam prosesnya, digunakan katalis bimetalik berbasis nikel oksida dan tembaga oksida. Hasilnya, rendemen biogasolin mencapai sekitar 83 persen dengan suhu operasi relatif lebih rendah, yakni 380 derajat Celsius. Dari setiap 10 kilogram minyak sawit, dapat dihasilkan sekitar 5 liter bensin, sementara sisanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar kompor tanpa residu.
Ke depan, ITS menargetkan inovasi ini dapat diuji coba dalam skala lebih luas melalui koordinasi dengan Kementerian ESDM. Jika berhasil dikembangkan secara industri, bensin berbasis sawit ini berpotensi memberikan nilai tambah besar bagi komoditas nasional sekaligus menjadi solusi energi yang lebih berkelanjutan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)