Pada pelaksanaan tahun ini, panitia pusat mencatat hampir 3.000 data anomali dari peserta. Temuan tersebut mencakup indikasi kecurangan yang beragam, mulai dari ketidaksesuaian identitas hingga pola pendaftaran yang mencurigakan sejak tahap awal seleksi.
Salah satu modus yang kembali terungkap adalah praktik joki. Panitia menemukan peserta ujian tahun sebelumnya kembali mengikuti ujian, namun menggunakan identitas berbeda untuk menggantikan orang lain. Bahkan, ada pula upaya manipulasi foto pendaftaran guna menyamarkan identitas asli peserta.
Panitia menegaskan tidak akan mentoleransi segala bentuk kecurangan. Peserta yang terbukti melanggar aturan akan dikenakan sanksi tegas sesuai ketentuan yang berlaku, demi menjaga integritas seleksi nasional dan memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh calon mahasiswa. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)