Owner DKOE, Dini Koes Aryanti, mengaku awalnya ia tidak langsung belajar pewarna alami, melainkan mendalami teknik jahit zero waste agar limbah kain bisa ditekan seminimal mungkin. Dari proses tersebut, ia kemudian berpikir untuk menciptakan kain dengan karakter unik, berbeda dari produk konvensional di pasaran.
Eksplorasi berlanjut pada teknik ekoprin dan pewarna alami. Dini memanfaatkan bahan yang mudah ditemukan namun kerap terbuang, seperti ampas kopi dan kulit bawang bombay. Kulit bawang dikumpulkan dari pasar tradisional, sementara ampas kopi diperoleh dari sesama pelaku UMKM yang kebingungan mengelola sisa produksinya.
Melalui proses riset dan uji coba mandiri, limbah tersebut diolah menjadi pewarna alami. Ampas kopi direbus sesuai takaran warna yang diinginkan dan didiamkan selama satu hari sebelum digunakan. Pewarnaan dilakukan pada kain berbahan serat alam 100 persen agar warna terserap maksimal. Seluruh proses, mulai dari pembukaan pori kain dengan bahan ramah lingkungan, pewarnaan, hingga fiksasi menggunakan tawas atau kapur, memakan waktu sekitar dua minggu sebelum kain siap dijahit menjadi outer atau rok.
Bagi Dini, pilihan menggunakan pewarna alami bukan sekadar tren, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan. Industri fesyen dikenal sebagai salah satu penyumbang sampah terbesar di dunia. Melalui konsep zero waste dan pemanfaatan limbah, DKOE tak hanya menghadirkan busana bernilai estetika, tetapi juga mengajak masyarakat lebih bijak dalam berkarya dan berkonsumsi. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)