Alasannya bukan cuma soal malas, tapi ada hitung-hitungan yang realistis di baliknya. Berdasarkan riset, sekitar 52% hingga 57% orang sengaja menghindari posisi manajerial karena dianggap memiliki tingkat stres yang paling tinggi. Banyak karyawan merasa kenaikan gaji yang ditawarkan tidak sebanding dengan beban tanggung jawab yang berat, seperti harus siaga di WhatsApp 24/7 bahkan saat akhir pekan. Fenomena global yang awalnya muncul di Jepang ini sukses bikin HRD pusing tujuh keliling karena sulit mencari regenerasi pemimpin dalam sistem karier tradisional yang mulai dianggap kuno.
Agar perusahaan tidak kehilangan talenta terbaik, para ahli menyarankan agar korporasi mulai mengubah cara pandang tentang kesuksesan. Perusahaan perlu menawarkan jalur karier alternatif, misalnya menjadi ahli atau spesialis yang gajinya setara manajer tapi tanpa beban mengurus birokrasi atau bawahan. Sekarang, sukses tidak harus selalu jadi bos; memiliki kebebasan lokasi kerja, fleksibilitas, dan tubuh yang tetap sehat jauh lebih bermakna daripada punya jabatan tinggi tapi berakhir di rumah sakit karena stres.
Hai, Sobat Medcom.id! Kalau kamu punya video peristiwa menarik bisa mengirimkannya ke redaksi@medcom.id
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(rzs)