Faktor utama maraknya kekerasan ini adalah ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki yang menempatkan pelaku pada posisi dominan terhadap korban. Selain itu, para penyintas sering kali terhambat mencari keadilan karena beban pembuktian yang berat, stigma masyarakat, serta ancaman laporan balik atas pencemaran nama baik.
Sebagai respon, para sineas mulai menerapkan SOP produksi yang transparan dan mewajibkan adanya intimacy coordinator untuk adegan sensitif guna melindungi aktor. Asosiasi seperti APROFI juga memperketat ruang aman dengan komitmen untuk melakukan blacklist terhadap pelaku dari proyek-proyek masa depan agar lingkungan kerja lebih kondusif bagi semua orang. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(rzs)