Satu per satu kerikil dilemparkan sebanyak tujuh kali ke Jamarat Al-Aqabah, dinding besar yang melambangkan godaan setan. Bagi para jemaah, ritual ini bukan sekadar rangkaian ibadah simbolis, melainkan pengingat tentang perjuangan manusia melawan hawa nafsu, keraguan, dan berbagai godaan kehidupan. Tradisi tersebut merefleksikan kisah Nabi Ibrahim AS yang tetap teguh menjalankan perintah Tuhan meski digoda setan.
Setelah menyelesaikan ritual lempar jumrah, para jemaah melanjutkan prosesi tahalul dengan mencukur atau memendekkan rambut. Dalam suasana khidmat dan penuh kesederhanaan, ritual tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian diri serta harapan untuk kembali menjadi pribadi yang lebih bersih secara spiritual.
Rangkaian ibadah haji di Tanah Suci tidak hanya menjadi perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang sarat makna. Mulai dari wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, hingga hari-hari di Mina, setiap tahapan mengajarkan tentang kesabaran, pengorbanan, keikhlasan, dan kepasrahan kepada Tuhan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)