Para jemaah perempuan terlihat mengenakan baju turung, pakaian khas turun haji yang didominasi warna-warna cerah. Penampilan mereka semakin lengkap dengan aksesori kepala bernama talulu yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Bugis. Tak sedikit jemaah yang telah menyiapkan perias khusus untuk membantu merapikan busana dan aksesori sebelum prosesi penyambutan di daerah asal.
Sementara itu, jemaah laki-laki tampil lebih sederhana dengan mengenakan jubah putih dan penutup kepala khas Timur Tengah. Meski berbeda dalam penampilan, seluruh jemaah tetap menjalani prosesi yang sarat makna budaya. Tradisi mabello sendiri telah dipersiapkan sejak sebelum keberangkatan ke Tanah Suci dan menjadi bagian penting dari identitas masyarakat Bugis dalam menyambut kepulangan para tamu Allah.
Bagi masyarakat Sidrap, mabello bukan sekadar mengenakan pakaian adat, melainkan simbol penghormatan atas perjalanan spiritual yang telah dijalani. Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini terus dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal sekaligus ungkapan kebahagiaan keluarga dan masyarakat dalam menyambut jemaah haji yang kembali ke tanah kelahiran.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MUM)