Jakarta: Jejak panjang perfilman Indonesia tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga dalam gulungan film, poster, kamera, proyektor hingga berbagai dokumen lama.
Koleksi tersebut dirawat di Sinematek Indonesia yang menjadi salah satu tempat penyimpanan arsip perjalanan sinema Tanah Air. Di balik koleksi itu, ada proses panjang untuk memastikan warisan perfilman tetap terjaga dan dapat dikenali generasi berikutnya.
Salah satu tantangan terbesar adalah merawat film berbahan seluloid yang rentan mengalami kerusakan. Firdaus, yang mulai bekerja di Sinematek pada 1990 dan setahun kemudian menangani perawatan film, menjelaskan proses dimulai dengan mengurangi kadar asam pada pita seluloid, kemudian membersihkan dan memeriksa kondisi gambar, warna, durasi, serta perforasi.
Film dengan kerusakan tingkat satu dan dua masih dapat diperbaiki, sedangkan tingkat tiga dan empat biasanya sudah lengket, basah, hingga hancur dan sulit diselamatkan.
Firdaus pernah menangani film klasik produksi 1935 hingga menemukan potongan film Jendral Kancil tahun 1951 yang sudah tercecer. Potongan pita tersebut disusun dan disambung kembali hingga akhirnya dapat didigitalisasi meski tidak lagi utuh.
“Kita bukan hanya merawat film, tapi merawat isi film. Karena di dalam film itu kan ada seni, budaya, pengetahuan dan gambaran kehidupan. Jadi kalau kita ingin melihat masa lalu, ya kita lihat filmnya,” ujar Perawat Roll Film, Firdaus.
Upaya menjaga warisan perfilman juga dilakukan melalui pendataan koleksi non-film, termasuk poster yang dititipkan sejumlah rumah produksi. Mahasiswa magang turut membantu menginventarisasi judul, ukuran dan tahun pembuatan poster.
Bagi generasi muda, keberadaan arsip tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal kembali budaya dan kehidupan masa lalu. Sebab, merawat film bukan hanya mempertahankan pita seluloid, tetapi juga menjaga cerita, pengetahuan dan nilai yang terkandung di dalamnya agar tidak berhenti di ruang arsip.
(MUM)