Sulli Depresi Akibat Bullying, Mengapa Netizen Mudah Menghujat di Medsos?

Medcom Lifestyle bullying
Medcom • 17 Oktober 2019 12:27
Kejadian meninggalnya Sulli eks-member f(x) menjadi sebuah contoh bahwa kasus bullying bisa menjadi salah satu pemicu seseorang memiliki masalah kesehatan mental yang bisa berujung pada bunuh diri.

Banyak masyarakat yang masih menganggap remeh perlakuan bullying di media sosial. Perbuatan bully dinilai mesti disadari dan tidak bisa dinormalisasi. Bullying perlahan mengikis jati diri orang yang menjadi korban bullying tersebut.

Setengah dari pengguna internet di Indonesia ternyata pernah menjadi korban perundungan atau bullying di media sosial. Hasil riset Polling Indonesia yang bekerja sama dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengatakan ada sekitar 49 persen netizen yang pernah menjadi sasaran bullying di medsos.

Berikut sebagian pengelompokan orang yang rentan di-bully:

1. Dari sisi usia: bullying dilakukan oleh senior kepada junior di sebuah lembaga.

2. Dari sisi fisik: bullying dilakukan oleh orang yang berpostur tubuh yang lebih besar/berotot terhadap yang lebih kecil, tinggi terhadap pendek, dan lainnya. Bisa juga dilakukan oleh orang yang memiliki fisik lengkap kepada orang dengan disabilitas maupun kepada orang dengan penampilan berbeda.

3. Dari sisi keluwesan sosial: bullying dilakukan oleh orang populer kepada orang yang tampak canggung atau culun.

4. Dari sisi situasi normatif: bullying karena adanya kelompok mayoritas – minoritas, kelas sosial kaya dan miskin, maupun orientasi seksual yang berbeda.

5. Dari sisi mereka yang tampak berbeda dari lainnya: misalkan bullying terhadap anak yang paling tinggi,  bullying terhadap orang yang punya pandangan politik berbeda, dan sebagainya.

Jika Anda menemukan anak maupun remaja yang jadi korban cyber bullying, beberapa hal ini bisa dilakukan untuk membantunya:

1. Berikan dukungan
Meski hanya sebaris atau satu kata yang menjustifikasi, efeknya bisa sangat mendalam pada korban yang di-bully. Jadilah temannya, dengarkan ceritanya, tanyalah apa yang ia butuhkan, dan hubungkan ia dengan lembaga pendampingan yang sesuai kebutuhannya.

2. Hindari memviralkan kasusnya
Jika Anda ingin mengangkat pemberitaan, fokuslah pada dampak yang akan dialami oleh korban dan berikan info terkait pemulihan mentalnya. Ajari korban etika bersosial media dan efek yang ditimbulkan olehnya.

3. Ingatkan korban untuk ‘istirahat’
Salah satu caranya adalah dengan memintanya untuk stop baca media sosial untuk sementara waktu. Minta ia untuk fokus pada diri sendiri terlebih dahulu.
AFP: Angela Weiss, Loic Venance, Joel Saget/ Antara: Septianda Perdana/ Time
(ARV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai video ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif