Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Ernest Prakasa menilai banyak orang belum memahami realitas industri perfilman di Indonesia. Hal ini menurutnya menjadi topik yang menarik untuk dibahas.
Untuk memberikan penjelasan yang sederhana, Ernest mengibaratkan bioskop seperti warung dengan kapasitas rak yang sangat terbatas. Pemilihan produk yang disajikan harus yang berpotensi besar dibeli oleh konsumen.
Karena biaya operasional bioskop sangat mahal—mulai dari sewa mal, listrik, karyawan, hingga perawatan—pemilik bioskop harus memilih film yang paling berpeluang laku demi menjual tiket sebanyak mungkin.
Ernest mengungkapkan dua alasan utama mengapa rumah produksi besar atau sineas ternama lebih sering mendapatkan slot layar di bioskop. Salah satunya adalah reputasi yang membangun kepercayaan masyarakat. Selain reputasi, besarnya dana promosi yang dikucurkan untuk sebuah film juga berpengaruh besar dalam mendapatkan slot layar.
Ernest menegaskan bahwa sistem plot layar ini bukan dipicu oleh praktik suap-menyuap atau kecurangan. Menurutnya, hal ini murni bentuk dari kapitalisme yang berjalan adil berdasarkan hukum pasar.
Dok. Instagram/ernestprakasa
Hai, Sobat Medcom.id! Kalau kamu punya video peristiwa menarik bisa mengirimkannya ke redaksi@medcom Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(rzs)