Virus Shamonda, yang selama ini dikenal menginfeksi hewan ternak seperti sapi, domba, dan kambing, untuk pertama kalinya terdeteksi menginfeksi manusia di Lyon, Prancis. Pasien berusia 60-an tahun tersebut meninggal dunia pada awal Oktober 2026 setelah mengalami komplikasi serius. Namun, hubungan virus dengan kematiannya masih diteliti.
Gejala virus Shamonda pada manusia belum diketahui secara pasti karena baru satu kasus yang terdokumentasi. Pasien tersebut mengalami gangguan pada otak atau ensefalitis dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah. Sementara pada hewan, gejalanya meliputi demam, lesu, diare, penurunan produksi susu, hingga gangguan reproduksi.
Virus ini diduga menular melalui gigitan serangga kecil pengisap darah dari genus Culicoides atau agas. Hingga kini, belum ditemukan bukti penularan langsung antarmanusia maupun risiko kesehatan bagi masyarakat umum. Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan jalur penularannya.
Untuk mencegah risiko infeksi, masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar peternakan disarankan menggunakan losion antiserangga, mengenakan pakaian yang menutupi kulit, serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi keberadaan serangga. Pemantauan kesehatan hewan ternak juga penting dilakukan. Saat ini, belum tersedia vaksin khusus untuk virus Shamonda.
Ilustrasi: Pexels
Hai, Sobat Medcom.id! Kalau kamu punya video peristiwa menarik bisa mengirimkannya ke redaksi@medcom.id
(rzs)