Penjemputan Paksa Jenazah COVID-19 Dinilai Akibat Minim Komunikasi

Prime Talk Virus Korona
MetroTV • 19 Juni 2020 00:25
Menerapkan protokol kesehatan dalam penanganan jenazah pasien COVID-19 ternyata tidak selalu lancar sebagaimana yang diharapkan. Di berbagai daerah, tidak sekali dua kali terjadi kasus penolakan keluarga pasien korban COVID-19 yang dimakamkan menurut protokol jenazah COVID-19 yang dinilai kurang menghargai dan mencederai keyakinan korban dan keluarganya.

Aksi jemput paksa jenazah COVID-19 itu terjadi umumnya karena keluarga tidak terima perihal status pasien yang dikeluarkan pihak rumah sakit setempat. Mereka juga ingin memproses pemulasaran jenazah menurut keyakinan korban tanpa harus mengikuti protokol penanganan jenazah COVID-19 yang dinilai berlebihan.

Hingga saat ini penjemputan paksa jenazah pasien COVID-19 masih terjadi di Indonesia. Berbagai kalangan pun telah menyosialisasikan kepada masyarakat untuk menepis isu penolakan tes cepat dan penjemputan paksa jenazah COVID-19. Semua dilakukan untuk menekan penyebaran COVID-19. 

Menko PMK Muhadjir Effendy mengatakan persoalan ini terjadi karena kurangnya atau minimnya komunikasi antara pihak rumah sakit dan keluarga. Ia juga meminta aparat keamanan sigap berjaga di area rumah sakit agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Apabila komunikasi dapat terjalin dengan baik antara pemerintah daerah, rumah sakit dan pihak keluarga disertai kecepatan hasil swab test, maka mungkin kejadian seperti ini bisa diminimalisir atau bahkan tidak terjadi.

Courtesy: Metro TV
(ARV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai video ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif