Bangunan Unik Bersejarah Berbahan Putih Telur

Medcom Lifestyle Arsitektur Unik
Medcom • 12 Oktober 2019 16:37
Banyak hal yang menarik dan unik jika membicarakan bangunan tua, terlebih dari segi aristektur. Dengan material seadanya, orang zaman dahulu mampu mendirikan bangunan yang tetap kokoh hingga saat ini. Tak hanya di luar negeri, Indonesia juga memiliki banyak bangunan megah berusia tua yang menjadi bagian dari peradaban. Berbekal teknologi seadanya, manusia pada masa lalu mendirikan bangunan dengan proses dan teknik yang mungkin bikin Anda terperangah.
 
Salah satu keunikan proses mendirikan bangunan di Indonesia yaitu menggunakan putih telur. Biasanya, cairan bening dan kental dari telur itu dikombinasikan dengan kapur dan dijadikan sebagai perekat pengganti semen. Sebelum kehadiran industri semen, putih telur menjadi andalan perekat bangunan. Meski tidak diketahui kapan dan siapa pencetusnya, penggunaan putih telur sebagai perekat material mulai berkembang di beberapa daerah. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini bangunan tua ikonik yang mengandalkan putih telur sebagai perekat pengganti semen.

1. Benteng Somba Opu, Makassar

Benteng Somba Opu dibangun pada 1525. Putih telur diandalkan sebagai bahan perekat bangunan yang dibangun oleh Sultan Gowa ke IX Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi Kallona.

2. Masjid Sultan Riau, Pulau Penyengat

Masjid Sultan Riau dibangun sekitar tahun 1761 hingga 1812. Saat itu, Sultan Kerajaan Riau Yang Dipertuan Muda Raja Abdurrahman berinisiatif memperluas masjid yang dulunya merupakan bangunan kayu. Perluasan dilakukan karena tidak mampu lagi menampung jemaah.
 
Imbauan itu pun disambut baik oleh masyarakat. Bentuk dukungan berupa membantu menyumbangkan berbagai bentuk bantuan, seperti tenaga, bahan bangunan hingga makanan. Saat itu, makanan yang paling banyak disumbangkan adalah telur.
 
Karena mulai bosan mengonsumsi telur, pekerja pun mengakalinya dengan hanya memakan kuningnya saja. Sedangkan putih telur dibuang.
 
Tidak ingin terbuang sia-sia, putih telur itu pun dimanfaatkan sebagai bahan perekat. Saat itu, cairan bening itu dikombinasikan dengan pasir dan kapur. Ternyata campuran tersebut mampu membuat Masjid Sultan Riau berdiri kokoh hingga saat ini.

3. Taman Sari, Yogyakarta

Pembangunan Taman Sari diarsiteki oleh Tumenggung Mangundipura. Struktur bangunan didominasi oleh batu bata. Batu cetak yang terbuat dari tanah liat itu kemudian direkatkan menggunakan putih telur.

4. Jam Gadang, Bukittinggi

Meski PT Semen Padang sudah berdiri sejak 1910, pembangunan Jam Gadang tidak menggunakan semen. Arsitektur lebih memilih menggunakan adukan putih telur, kapur dan pasir. Uniknya lagi, Jam Gadang tidak menggunakan besi penyangga.
 
Seiring berjalannya waktu, semen dan batu bata mulai digunakan dalam beberapa kali proses pemugaran. MI, Antara Foto: Aji Styawan/Irwansyah Putra//Hendra Nurdiyansyah
(ARV)

Bagaimana tanggapan anda mengenai video ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif