Sutradara sekaligus penulis asal Indonesia, Ryan Adhriandy, melayangkan kritik tajam terhadap kurikulum jurusan animasi di berbagai perguruan tinggi tanah air yang dinilai masih timpang. Dalam diskusi di kawasan Gelora, Jakarta Pusat, Ryan mengungkapkan bahwa program pendidikan animasi saat ini terlalu berfokus pada riset teknis seperti penguasaan software dan komputer, namun mengabaikan fondasi penting dalam bercerita. Menurutnya, ketiadaan materi penulisan skenario yang baku ini memicu terjadinya krisis talenta penulis cerita di industri animasi nasional. Hal tersebut bahkan sempat dialami langsung oleh Ryan semasa kuliah, di mana ia harus mengambil kelas pilihan dari jurusan live-action demi bisa mempelajari ilmu menulis secara formal.
Kritik ini juga menyoroti adanya miskonsepsi di kalangan akademisi yang mengira seorang animator bisa secara spontan membuat cerita sembari menyusun storyboard layaknya maestro animasi Jepang, Hayao Miyazaki. Ryan menegaskan bahwa tidak semua animator memiliki kemampuan langka tersebut, sehingga struktur penulisan tetap wajib diajarkan sejak di bangku kuliah. Pandangan ini sejalan dengan pernyataan penulis skenario asal Amerika Serikat, Andrew Guerdat, yang menekankan bahwa naskah cerita merupakan fondasi utama dalam membangun industri film yang ideal. Menurut Andrew, sekolah film tidak boleh mengabaikan kelas penulisan, sebab investasi terbaik untuk memajukan industri kreatif adalah dengan aktif membangun keterampilan menulis dan merawat ekosistem komunitas penulis lokal.
Hai, Sobat Medcom.id! Kalau kamu punya video peristiwa menarik bisa mengirimkannya ke redaksi@medcom.id
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(rzs)